Senin, 09 Oktober 2017

Pengalamanku Baca Buku (kisah penuh hikmah)

 
    Disini saya akan memaparkan kisah penuh hikmah yang pernah saya baca dari sebuah buku (Ceritaku : suatu hari disaat aku sedang sakit, ibu memberiku dua buah buku dan aku memilih salah satu buku untuk kubaca. Buku tersebut berjudul Menuju Cahaya Ilahi. Kemudian aku membacanya, buku tersebut berisi  kumpulan kisah penuh hikmah).


    Buku tersebut berisi kisah-kisah pilihan yang disadur dari beberapa kitab seperti Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, Durrah An-Nashihin, Tanbiih Al-Ghaafiliin, Irsyaad Al-'Ibad dan lainnya.
    Kisah adalah hal penting bagi manusia. Setiap kisah mengandung pesan positif atau negatif bagi pembacanya, dengan sendirinya ia dapat mempengaruhi perilaku hidup manusia. Karena itu seyogyanya kita harus dapat memilih kisah yang mengandung pesan positif. Kisah yang ada dalam buku ini mengandung pesan yang positif. Berikut kisah penuh hikmah.

           Sepuluh kali lipat pahala sedekah

    Dituturkan oleh Ja'far bin Al Khattab, suatu hari ada seorang pengemis berdiri di depan pintu rumahkkepalamu" aku berkata kepada istriku,
   "Adakah engkau mempunyai sesuatu yang pantas diberikan kepada orang itu?"
   "Tidak ada, hanya ada empat butir telur ayam." kta istriku
   "Berikanlah telur itu kepada pengemis!" perintahku. Istriku memberikan telur kepada pengemis itu.
   Ketika pengemis itu sudah pergi, ada di antara kawanku memberikan sebuah wadah yang berisi telur ayam. Maka aku bertanya kepada istriku,
   "Berapa butir telur yang diberikan oleh kawanku itu?"
   "Tiga puluh butir," jawabnya.
   "Wah rugi benar kita, engkau berikan empat butir telur ayam tetapi yang datang tiga puluh butir. Bagaimana perhitungannya?" tanyaku.
   Istriku berkata, "Sebenarnya semuanya berjumlah empat puluh butir, hanya saja yang sepuluh itu dalam keadaan pecah (retak)"
   Ini adalah sebuah kisah yang menggambarkan bahwa empat butir telur yang diberikan kepada pengemis itu ternyata tiga butir utuh dan yang satu retak. (Irsyaad al'Ibad).
    Kisah diatas selain mengandung hikmah, juga memotivasi kita utuk bersikap saling mengasihi dengan sesama dan menumbuhkan sikap dermawan diantara kita karena setiap satu sedekah yang kita berikan pasti oleh Allah swt akan dilipat gandakan pahalanya menjadi sepuluh kali lipat.


                    Kemuliaan Hari 'Asyura

   Al Yafi'i menuturkan, di suatu desa ada seorang qadhi (penghulu) yang kaya. Pada suatu hari bertepatan dengan hari 'Asyura (tanggal 10 Muharram) datanglah seorang pengemis lalu berkata, "Mudah-mudahan Allah memuliakan tuan qadhi. aku adalah seorang laki-laki yang miskin yang mempunyai seorang anak dan istri. Aku datang kepada tuan untuk meminta bantuan berkenaan dengan kemuliaan hari ini. Aku memohon agar tuan berkenan memberi aku sepuluh potong roti, lima potong daging dan uang dua dirham saja."
    Sang qadhu menjanjikan akan memberinya pada waktu dzuhur. Pengemispun pulang dan datang lagu pada waktu dzuhur sebagaimana janji qadhi. Sang qadhi menjanjikan lagi pada waktu ashar. Dengan sabar pengemis pulang. Pada waktu ashar dia datang lagi, namun qadhi tidak memberikan apa-apa kepada si miskin itu. Pengemispun pulang dengan hati yang penuh kekecewaan.
    Dalam perjalanan pulang ia melewati rumah seorang nasrani. Tuan rumah sedang duduk di depan rumah. Pengemis berkata kepada seorang nasrani itu, "Demi kemuliaan hari ini, berilah aku sesuatu, tuan."
     "Ini haru apa?" tanya nasrani.
    Pengemis itu menjelaskan kemuliaan dan hikmah hari 'Asyura. Orang nasrani itu berkata, sebutkanlah keperluanmu. Aku bersumpah akan memuliakan hari ini."
    Pengemis itu menyebutkan ingin roti, daging dan uang dua dirham. Orang nasrani itu memberinya sepuluh kilo gandum, sepuluh potong daging dan uang dua puluh dirham lalu berkata, "ambilah untukmu dan keluargamu setiap bulan selagi aku hidup karena memuliakan hari ini."
    Lalu pengemis itu pulang dengan hati yang berbunga bunga. Pada waktu malamnya ketika sang washington tidur tiba-tiba ada hatif (suara tanpa rupa), "angkatlah kepalamu." Sang qadhi mengangkat kepalanya, ternyata yang dia lihat adalah sebuah gedung yang megah dan indah dari emas dan perak, dan gedung yang dibangun dari intan merah luar dan dalam. Sang qadhi bertanya,
    "Untuk siapa gedung itu?"
    Maka dijawab, "gedung itu untukmu seandainya engkau menunaikan janjimu memberi kebutuhan pengemis. Tetapi karena engkau tidak memenuhi janjimu, maka gedung itu untuk si fulan yang beragama nasrani.
    Sang qadhi itu terjaga dari tidurnya. Hatinya diliputi rasa bingung dan resah. Ia berkata kepada diri sendiri, "rugi benar aku ini."
    Paginya ia pergi menuju ke rumah orang nasrani itu. Setelah bertemu ia bertanya, "wahai saudaraku. Kebaikan apa yang telah engkau kerjakan tadi malam?"
    "Memangnya kenapa?" Tanya orang nasrani itu tidak mengerti. Kemudian qadhi menguraikan peristiwa yang dialaminya tadi malam. Lalu ia berkata, "juallah kepadaku kebaikan yang telah engkau lakukan kepada pengemis itu dengan uang 100.000 dirham"
    Orang nasrani itu menjawab, "wahai qadhi setiap dosa yang dikabulkan itu sangat mahal harganya. Aku tidak akan menjualnya walaupun dengan seisi bumi  ini sekalipun. Apakah aku ini kikir kepadamu dengan dua gedung itu?"
Qadhi berkata, "engkau bukanlah seorang muslim."
    Orang nasrani itu memotong ikat pinggangnya lalu dia mengucapkan dua kalimat syahadat dan berkata, "sesungguhnya janjinya itu benar." (Irsaadul 'Ibaad)
    Kisah diatas mengandung hikmah bahwa setiap janji harus ditepati karena itu merupakan suatu kewajiban dan janganlah mengingkarinya sebab engkau akan merugi dan menyesalinya.

Ceritaku:
   walaupun menurut orang-orang hal itu terlihat sepele, tapi menurutku itu adalah pengalaman yang menyenangkan bagiku karena dengan membaca buku itu aku bisa lebih mengetahui tentang kuasa Allah swt, balasan perbuatan yang telah dilakukan manusia, memiliki wawasan luas tentang agama sehingga membuatku lebih semangat dalam beramal kebaikan.



 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Refleksi Terhadap Perkuliahan Tafsir Tematik VII: Kedudukan dan Peran Perempuan

  Refleksi Perjalanan Memahami Kedudukan Perempuan dalam Al-Qur'an: Sebuah Pembelajaran dari Mata Kuliah Tafsir Tematik VII oleh: Queena...